Pengembangan Ekspor Produk Kelautan Indonesia ke Eropa

Potensi dan Kondisi

Potensi kelautan Indonesia telah sering dipublikasikan di berbagai media. Sebagai negara bahari, Indonesia dikelilingi oleh wilayah laut seluas 2.915.000 km2 dengan garis pantai sepanjang 95.181 km (Suharsono, 2001). Sayangnya, potensi ini belum benar-benar digali untuk menghasilkan devisa lebih banyak lagi. Sebagai gambaran dapat dilihat dari ekspor produk perikanan tangkap yang rata-rata hanya sebesar 15,88% dari hasil perikanan tangkap tahun 1991-2000.

Produksi perikanan tangkap selama dekade terakhir rata-rata sebanyak 3.506.901 metrik ton per tahun dengan rata-rata peningkatan 4,33% per tahun. Berdasarkan data tahun 2000, perikanan tangkap menyumbangkan 84,00% terhadap produksi perikanan secara keseluruhan. Sayangnya, sebagian besar produk perikanan hanya bisa digunakan untuk keperluan konsumsi dalam negeri. Indonesia baru bisa engekspor rata-rata sebanyak 536.397 metrik ton per tahun dengan nilai 1,56 milyar US$ dengan harga rata-rata sebesar US$2,93/kg.

Ekspor produk kelautan masih didominasi oleh produk konvensional untuk konsumsi seperti udang dan ikan tuna, sedangkan produk lainnya (ikan hias dan invertebrata) masih sangat sedikit. Ekspor udang selama dekade terakhir rata-rata mencapai 103.086 metrik ton (19,22% dari total ekspor) dan ikan tuna 88.127 metrik ton (16,43%), sedangkan ikan hias baru mencapai 1.361 metrik ton (0,25%). Harga komoditi tersebut memang cukup baik di pasar internasional. Selama satu dekade terakhir, harga udang rata-rata US$9,22/kg, ikan tuna US$2,18/kg, kepiting US$3,54/kg, ikan hias hidup US$3,65/ekor, invertebrata hidup US$3,72/potong dan ikan konsumsi hidup US$19,67/kg, sedangkan harga ikan lainnya hanya berkisar antara US$1,07/kg – US$2,07/kg (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Harga Ekspor Komoditas Perikanan Indonesia (FOB, Jakarta)

No.

Komoditas

Harga terendah

(US$/kg)

Harga tertinggi

(US$/kg)

Harga rata-rata

(US$/kg)

1

Udang

7.09

10.97

9.22

2

Tuna

1.69

2.46

2.18

3

Kepiting

1.78

6.33

3.54

4

Ikan hidup

8.00

63.00

19.67

5

Ikan hias

0.50

30.00

3.65

6

Invertebrata lain

1.00

15.00

3.72

7

Lainnya

0.89

1.22

1.07

Sumber:
diolah dari data FAO (2002) dan DKP (2002).

Sementara itu, produk alami laut (marine natural produk) yang dihasilkan dari ekstraksi senyawa bioaktif metabolit sekunder biota laut relatif belum digarap. Padahal, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, estimasi perolehan devisa dari bioteknologi kelautan ini bisa mencapai 4 milyar US$. Sebelum tahun 1993, sebanyak kurang lebih 6.500 senyawa berhasil diisolasi dan pada tahun 1999 jumlahnya berlipat menjadi sekitar 10.000. Penggandaan hingga 50 persen dalamjangka waktu empat tahun menggambarkan peledakan minat yang besar terhadap produk alami dari laut (Effendi,2002).

Hasil penelitian Ruitenbeek dan Cartier (1999) di perairan Jamaica menunjukkan bahwa nilai bioprospek farmasi dari terumbu karang seluas 73,78 km2 sebesar 7,01 juta US$. Andaikan nilai tersebut dipakai untuk menghitung nilai bioprospek farmasi dari terumbu karang Indonesia yang luasnya mencapai 51.020 km2, maka nilainya akan menjadi 4,85 milyar US$. Disebutkan pula bahwa nilai pasar global dari industri farmasi sebesar 256 milyar US$, industri kosmetik 6 milyar US$, industri enzim 1,6 milyar US$, dan bioteknologi enzim 0,6 milyar US$. Bila industri bioprospek farmasi dari laut Indonesia bisa digarap, maka devisa yang akan diperoleh sangat besar.

Peluang

Berdasarkan data dari FAO selama satu dekade terakhir, produk kelautan dan perikanan sebagian besar (72,70%) digunakan untuk komsumsi. Sebagian besar konsumsi produk kelautan dan perikanan dalam bentuk segar (34,90%), beku (20,50%) dan sisanya (17,30%) berupa ikan dalam kaleng dan olahan lainnya.
Ini menunjukkan bahwa peluang pasar bagi produk kelautan dan perikanan dalam bentuk segar dan beku masih cukup baik di pasar internasional. Baru sebagian kecil (27,30%) digunakan untuk kepentingan lain, termasuk untuk industri bioteknologi kelautan.

Beberapa industri besar sejak tahun 1989 mulai berbondong-bondong terjun dalam produk ini, seperti Hitachi chemical yang berkonsentrasi pada protein addhesive untuk kepentingan medis yang diperoleh dari tiram mutiara. Mitsubishi Kasei menggali terpenoid bakterisidal yang diisolasi dari sponge, Mitsubishi Plastic bergerak pada polisakarida. Rhone Poulene dari Perancis menggarap agen cytotoksik dari ascidian. Bayer dan Asta Medica di Jerman juga sejak beberapa tahun belakangan mulai menjamah bidang ini. Senyawa yang diisolasi dari biota laut sebagian besar atau sekitar 82 persen digunakan untuk kepentingan medis, makanan tambahan, dan kosmetik. Sejak tahun 1969 hingga tahun 1995, dari 200 aplikasi paten, USA menempati urutan kepemilikan terbanyak diikuti oleh Jepang, Spanyol dan Perancis (Effendi, 2002).

Jepang, Amerika dan Eropa merupakan pasar utama bagi produk perikanan dunia. Pada tahun 2000, import Jepang mencapai nilai 15,51 milyar US$, Amerika sebanyak 10,45 milyar US$ dan Eropa sebanyak 21,78 milyar US$. Sekilas nampak pasar Eropa mampu mengimbangi pasar Jepang dan Amerika, namun import Eropa sampai tahun 2000 masih berasal dari negara-negara Eropa sendiri. Eropa hanya mengimport sebanyak 3,31 milyar US$ (15,22%) dari luar Eropa. Namun demikian, negara-negara Asia Timur dan
Asia Tenggara mampu mengisi peluang pasar Eropa dengan pangsa pasar sekitar 12,50% dari total import Eropa yang berasal dari luar Eropa (lihat Tabel 2). Peluang ini akan semakin besar pada masa mendatang akibat adanya kesepakatan negara-negara Eropa untuk mengurangi tangkapan ikan di laut sekitar Eropa.

Tabel 2. Neraca Perdagangan Produk Perikanan di Eropa

No.

Perdagangan

1997

1998

1999

2000

1

Impor (US$1000)

21235976

23685628

22637435

21781355

2

Ekspor (US$1000)

18099298

19022772

19424072

18466064

3

Net Impor (US$1000)

3136678

4662856

3213363

3315291

4

Net Impor (%)

14.77

19.69

14.19

15.22

5

Impor dari
Asia Tenggara dan Timur (%)

12.50

Sumber:
diolah dari data FAO (2002).

Sampai saat ini pasar produk makanan dan bahan pangan (lebensmittel) di Eropa berpusat di Jerman karena letak geografisnya yang strategis di jantung Eropa. Sekitar 75% dari peredaran produk tersebut di Eropa atau 55% di Uni-Eropa, dikendalikan dari kota Hamburg (Jerman). Negara yang berpenduduk 82 juta jiwa dan memiliki pendapatan nasional bruto 2.019 milyar Euro ini juga mengadakan kontak dagang dengan negara-negara di kawasan ASEAN yang nilainya mencapai 16,8 milyar US$. Pangsa terbesar masih direbut oleh Singapura sebesar 24,1%, kemudian Malaysia sebesar 23,4% dan Thailand sebesar 16,2%, sedangkan Indonesia dan Filipina masing-masing baru sebesar 15,5% dan 12,0%. Hasil survey pada bulan Juli 2002 di Grossmarkt Hamburg menunjukkan bahwa sekitar 142 jenis produk dari Thailand (bumbu, sayur, buah, dan ikan) masuk ke Eropa melalui Hamburg lewat jalur udara yang disiapkan oleh maskapai penerbangan  mereka (Thai Airlines) sekali dalam seminggu.  Sementara itu, beberapa jenis ikan tuna dalam bentuk segar dan ikan hias dari Indonesia telah masuk Eropa melalui Hamburg lewat jasa angkutan udara Singapore Airlines.

Import produk perikanan Eropa yang berasal dari negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara didominasi oleh Thailand, Indonesia dan Vietnam. Pada tahun 2000, eksport bersih Indonesia sebesar 1,49 milyar US$, sedangkan Thailand sebesar 3,58 milyar US$ dan Vietnam sebesar 1,46 milyar US$. Data tersebut menunjukkan bahwa eksport bersih Indonesia masih kurang dari separuh eskport bersih Thailand. Padahal produksi perikanan tangkap Indonesia tahun 2000 sebanyak 4,14 juta metrik ton sedangkan Thailand hanya sebanyak 2,92 juta metrik ton. Apalagi bila dilihat dari wilayah perairan laut Indonesia yang jauh lebih luas daripada Thailand yang hanya 26.000 km2 atau sekitar 30 % dari Indonesia.

Kenyataan tersebut menunjukkan dua hal, yaitu: 1) produk perikanan Indonesia lebih banyak ditujukan untuk konsumsi dalam negeri, 2) jenis dan mutu produk perikanan Indonesia masih banyak yang belum memenuhi standar eksport, dan 3) masih kurangnya dukungan dari transportasi nasional untuk ekspor. Hasil pengamatan di lapangan cenderung kepada 2 hal yang terakhir. Artinya, mutu produk perikanan Indonesia masih banyak yang belum mampu memenuhi standar eksport. Eksportir Indonesia
dari Jakarta dan Denpasar masih sering menggunakan maskapai penerbangan asing karena maskapai
penerbangan nasional belum mampu memenuhi permintaan jasa penerbangan ekspor bahan makanan segar dan hidup. Peningkatan mutu produk perikanan Indonesia dengan teknologi pasca panen harus diupayakan agar produk perikanan Indonesia mampu mengisi peluang pasar Eropa yang semakin besar di masa mendatang, disamping pembenahan sarana angkutan udara nasional untuk mendukung kegiatan ekspor bahan makanan segar dan hidup.

Kendala

Seringkali terdengar bahwa modal (keuangan) merupakan kendala utama dalam pengembangan industri kelautan Indonesia. Padahal, keseriusanlah yang menjadikan aliran modal untuk industri perikanan menjadi terhambat. Buktinya, negara Thailand yang modalnya relatif sama dengan Indonesia, mampu meningkatkan eksport perikanannya.  Eksport perikanan Thailand selama tiga tahun terakhir (1998-2000) meningkat rata-rata 4,17%/tahun, sementara eksport perikanan Indonesia pada kurun waktu yang sama menurun 1,35%/tahun (lihat Tabel 3).

Tabel 3. Ekspor Perikanan dari Negara Pengekspor Utama di Dunia

No.

Negara

Ekspor (US$1000)

1998

1999

2000

1

Thailand

4031279

4109860

4367332

2

China

2656117

2959530

3605838

3

Norway

3661174

3764790

3532841

4

USA

2400338

2945014

3055261

5

Canada

2265236

2617759

2818433

6

Denmark

2897707

2884334

2755676

7

Chile

1596800

1699516

1784560

8

Taiwan

1579836

1702363

1756133

9

Spain

1529315

1604237

1599631

10

Indonesia

1628494

1527092

1584454

Sumber: FAO (2002).

Ketidakpastian (uncertainity) dan sifat musiman dari bidang kelautan seringkali dijadikan alasan pihak perbankan Indonesia yang belum mau melayani bidang tersebut. Bila alasan tersebut benar adanya, pastilah Thailand atau bahkan Vietnam tidak akan mengembangkan bidang kelautan dan perikanan. Kalaupun
alasan tersebut benar, pengembangan ilmu dan teknologi eksploitasi dan pasca panen sumberdaya hayati laut serta manajemennya, pasti mampu mengatasi semua kendala tersebut. Data menunjukkan bahwa ekspor perikanan Thailand menyumbangkan 37,50% pada ekspor pertaniannya dan 6,40% pada total ekspornya. Eskpor perikanan Vietnam bahkan menyumbangkan 40,50% pada ekspor pertaniannya dan 10,30% pada total ekspornya. Sementara ekspor perikanan Indonesia baru menyumbangkan 24,30% pada ekspor pertaniannya dan 2,60% pada total ekspornya (lihat Tabel 4).

Tabel 4. Keragaan Ekspor Perikanan ASEAN

No.

Negara

Ekspor

(US$1000)

Impor

(US$1000)

Net Ekspor

(US$1000)

Terhadap Pertanian (%)

Terhadap Total (%)

1

Thailand

4367332

781767

3585565

37.5

6.4

2

Indonesia

1584454

95075

1489379

24.3

2.6

3

Vietnam

1480110

18792

1461318

40.5

10.3

4

SouthKorea

1385948

1371830

14118

47.5

0.8

5

NorthKorea

87276

13006

74270

70.4

9.2

6

Philippines

400287

108574

291713

20.6

1.0

7

Myanmar

184972

1840

183132

70.0

13.2

8

Cambodia

32174

4107

28067

56.4

8.5

9

Malaysia

349080

296782

52298

7.4

0.4

10

Singapore

452583

555476

-102893

12.0

0.4

Sumber: FAO (2002).

Wabah penyakit sapi gila yang terjadi tahun 2000 di Eropa menyebabkan masyarakat Eropa lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan. Masyarakat Jerman mewaspadai semua produk makanan yang berasal dari luar Jerman.  Begitu pula masyarakat Eropa yang mewaspadai produk makanan dari luar Eropa. Akibatnya, pada akhir tahun 2001 produk perikanan Indonesia ditolak masuk ke pasar Eropa dengan alasan adanya kandungan chloramphenicol. Walaupun pihak Indonesia sudah menyatakan bahwa kandungan chloramphenicol tersebut masih jauh di bawah standar internasional, produk tersebut tetap saja ditolak karena Eropa tidak dapat mentolerir adanya chloramphenicol dalam makanan mereka. Akibatnya Komisi Eropa membuat keputusan (Commission Decision) pada tanggal 27 September 2001 untuk mewaspadai beberapa produk perikanan dan akuakultur dari Indonesia. Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah: 1) belum adanya aliran informasi timbal balik antara importir di Eropa dan eksportir dari Indonesia, dan 2) mutu produk perikanan Indonesia harus mampu memenuhi standar produk bahan makanan di Eropa.

Bea masuk yang ditetapkan di beberapa negara Eropa juga dianggap sebagai kendala masuknya produk perikanan Indonesia ke pasar Eropa. Walaupun ada perlakuan khusus dalam hal bea masuk produk ekspor ke EU dari negara-negara tertentu, EU hanya memberlakukannya bagi ACP (bekas jajahan negara-negara Eropa, terbanyak Afrika) dan US bagi Andean Pact Countries (bekas jajahan US). Indonesia tidak termasuk, karena saat policy tersebut dibuat, hubungan Indonesia dengan bekas penjajahnya kurang baik (waktu itu masih di jaman orde lama), sehingga Belanda enggan mendaftarkannya. Setelah itu Indonesia minta supaya direvisi, tetapi sampai saat ini belum ditanggapi.

Hasil survey di beberapa negara di Eropa menunjukkan bahwa importir ikan hidup di Eropa dikenakan biaya pemeriksaan (veterinary inspection fees) yang besarnya bervariasi dari 8 US$/100 kg di Inggris sampai 30 US$/100 kg di Belanda. Tambahan biaya juga dikenakan bila kedatangan produk import di luar waktu kerja normal yang besarnya bervariasi di setiap negara. Biaya ini disebut dengan Extra Evening Charge (antara jam 18.00-24.00 waktu setempat), Extra Morning Charge (antara jam 24.00-08.00 waktu setempat), dan Extra
Saturday/Sunday and Public Holiday Charges
.

Importir di Eropa umumnya menggunakan transportasi udara untuk produk perikanan dalam bentuk segar dan hidup, dan transportasi laut untuk produk beku dan kemasan. Hasil survey di beberapa negara di Eropa menunjukkan bahwa 53% importir menggunakan modus transportasi campuran (laut dan udara) dan sisanya (47%) menggunakan modus transportasi tunggal. Data yang cukup mengherankan adalah dari 5.000 catatan pengiriman, 25% berasal dari Singapura, sedangkan Indonesia dan negara Asia lainnya kurang dari 10%.
Pengangkutan produk perikanan lewat udara didominasi oleh KLM (Belanda) dan Lufthansa (Jerman) masing-masing sebesar 15%, sedangkan Singapore Airlines sebesar 9% dan Garuda hanya sebesar 5%.
Perkembangan usaha transportasi laut Indonesia memang sudah sejak lama menghadapi masalah, jangankan untuk inter-continental, untuk inter-insuler saja sudah kewalahan.

Issue lingkungan yang merebak akhir-akhir ini juga ditujukan pada beberapa hasil laut Indonesia seperti udang, ikan tuna, dan ikan (biota) karang. Hasil laut (baik dari tangkapan maupun budidaya) yang dalam prosesnya dianggap mencemari atau merusak lingkungan, dalam waktu dekat akan dilarang untuk masuk ke Eropa. Kebijakan eco-product ini tentu akan menghambat ekspor hasil laut Indonesia ke Eropa. Walaupun dalam jangka panjang akan menjamin keberlanjutan eskpor hasil laut Indonesia.

Pengembangan

Berdasarkan uraian terdahulu, beberapa pengembangan untuk meningkatkan kompetensi bidang kelautan dalam industri Indonesia, antara lain adalah:

1. Pengembangan teknologi eksploitasi dan pasca panen sumberdaya hayati laut yang disesuaikan dengan standar negara tujuan ekspor. Misalnya dengan mencari alternatif bahan desinfektans untuk menggantikan chloramphenicol dalam proses pasca panen udang dan ikan.

2. Pengembangan industri bioteknologi kelautan untuk kepentingan medis, makanan tambahan dan kosmetik yang mulai menunjukkan nilai yang tinggi di pasar internasional.

3. Peningkatan arus informasi dari negara importir mengenai standar mutu dan arus informasi ke negara importir mengenai spesifikasi produk kelautan Indonesia.

Pustaka

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002.
Statistik Perikana Indonesia. DKP-RI, Jakarta.

Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002.
Country Status Overview
2001 tentang Eksploitasi Perikanan dan Perdagangan dalam
Perikanan Karang di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan, Yayasan
Telapak Indonesia, International Marine Life Alliance. Jakarta April 2001.

Effendi, Hefni. 2002. Mikrobioteknologi Laut; Tantangan Baru dalam Eksploitasi Laut
Nusantara. Kompas, Senin, 19 Agustus 2002.

FAO. 2002. Fisheries Statistical Year Book 2000. FAO, Rome.

Official Journal of the European Communities. 2001. COMMISSION DECISION of 27 September 2001 concerning certain protective measures with regard to certain fishery and aquaculture products intended for human consumption and originating in Indonesia.

http://europa.eu.int/eurlex/pri/en/oj/dat/2001/l_260/l_26020010928en00350036.pdf

Official Journal of the European Communities. 2001. COUNCIL REGULATION (EC) No.1036/2001 of 22 May 2001 prohibiting imports of Atlantic bigeye tuna (Thunnus obesus) originating in Belize,Cambodia, Equatorial Guinea,Saint Vincent and the Grenadines and Honduras.

Ornamental Fish International. 1999. European Importers’ Survey Results. OFI Journal Issue 26: February 1999.

Ruitenbeek, Jack, and Cynthia Cartier. 1999. Issues in Applied Coral Reef Biodiversity
Valuation: Results for Montego Bay, Jamaica. World Bak Research Comitte Project RPO #
682-22.

Suharsono. 2001. Condition of Coral Reef Resource in Indonesia. Oceanological Research and Development
Centre, Indonesian Science Agency. Paper presented in International Workshop on the Trade in Stony Corals: Development of sustainable management guidelines. Jakarta, April 9-12, 2001.

Explore posts in the same categories: Jurnal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: