Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut di Teluk Bone

Oleh: Achmad Fahrudin

I. Pendahuluan
Sebagai negara bahari, Indonesia memiliki 17.508 pulau dengan panjang pantai 81.000 km dan 63 % (3,1 juta km2) wilayahnya merupakan perairan laut yang kaya dengan beragam sumberdaya hayati. Sayangnya, ekosistem pesisir dan laut di wilayah industri dan padat penduduk mendapat tekanan serius yang membahayakan kelestariannya. Tekanan tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu : (1) eksploitasi berlebih terhadap sumberdaya hayati, (2) polusi dari aktifitas di darat dan laut, dan (3) degrdasi fisik dari habitat pesisir, terumbu karang, mangrove dan estuaria.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan degradasi ekosistem pesisir dan laut di Indonesia. Salah satu yang terpenting adalah kebanyakan perencana, pembuat keputusan dan pelaksana pembangunan dari sektor publik dan swasta yang kurang memperhatikan strategi dan nilai ekonomi total dari ekosistem tersebut. Umumnya mereka memandang mangrove dan ekosistem pesisir lainnya sebagai lahan marjinal yang harus dikonversi menjadi penggunaan lahan lainnya, seperti kawasan industri, perumahan dan tambak. Dengan kata lain, mereka hanya menilai sebagian kecil barang dan jasa yang dapat diperoleh dari ekosistem pesisir yang disebut nilai penggunaan langsung seperti kayu mangrove dan ikan serta organisme yang secara langsung dapat diambil dari kawasan mangrove. Kenyataannya, ekosistem pesisir, seperti mangrove, memiliki banyak nilai dan fungsi lain yang sangat penting bagi ekosistem pesisir dan laut dimana kelangsungan hidup manusia dan pembangunan bergantung kepadanya.

II. Nilai Ekonomi Beberapa Sumberdaya Pesisir dan Laut
2.1. Hutan Mangrove

Mangrove merupakan ekosistem hutan yang terbentuk oleh tumbuhan halophytic (toleran terhadap salinitas), berkayu dan berbiji dengan kisaran ukuran mulai dari tumbuhan yang tinggi hingga tumbuhan perdu yang kecil. Tumbuhan tersebut memiliki kemampuan untuk tumbuh di sepanjang garis pantai pasang surut yang terlindung pada sedimen bersalinitas dan seringkali bersifat anaerobik serta kadang-kadang bersifat masam.
Terdapat lebih dari 24 juta hektar hutan mangrove yang tersebar di negara-negara sub tropik dan tropik di dunia ini (Snedaker and Getter, 1985). Indonesai memiliki hutan mangrove lebih luas dari negara-negara lain, yaitu sekitar 2,7 juta sampai 4,25 juta hektar. Mangrove menempati bantaran sungai-sungai besar sampai 100 km masuk ke pedalaman seperti yang dijumpai di sepanjang sungai Mahakam dan Musi. Mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia dengan 89 spesies yang terdiri dari 35 spesies pohon, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit dan 2 spesies parasitik (Nontji, 1987). Sedangkan pada ekosistem mangrove yang berbeda di seluruh dunia tercatat 60 spesies pohon, beberapa spesies pohon yang berasosiasi dan ribuan spesies mamalia, burung, ikan dan invertebrata (IUCN, 1993).
Mangrove merupakan ekosistem yang sangat produktif dengan berbagai fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan yang penting. Saenger et al (1983) serta Hamilton and Snedaker (1984) telah mengidentifikasi lebih dari 70 nilai pakai langsung dan tak langsung dari tumbuhan mangrove dan ekosistemnya.
Di Indonesia, nilai pakai langsung dari tumbuhan mangrove telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kayu bakar, arang, penyamak kulit, bahan bangunan, peralatan rumah tangga, obat-obatan dan bahan baku untuk industri pulp dan kertas sejak lama (Nontji, 1987). Namun demikian, belum diketahui tingkat produksi kayu bakar di Indonesia. Dinas Kehutanan Riau (1979) melaporkan bahwa dari tahun 1973 sampai 1976 Propinsi Riau mengekspor 7.000 sampai 15.000 m3 kayu bakar mangrove setiap tahunnya, sedangkan Sulawesi Selatan mengekspor 26.339 m3 kayu bakar mangrove pada tahun 1978 (Nurkin, 1979). Lebih dari separuh energi yang dipakai pada rumah tangga diperoleh dari kayu bakar (Martono, 1979), dan di wilayah pesisir kayu bakar tersebut berasal dari hutan mangrove (Polunin, 1983).
Produksi arang dari mangrove dimulai tahun 1870-an di Sumatera dan pada tahun 1979 tingkat produksinya mencapai 41.200 ton atau sekitar US$ 2 juta (Anonimous, 1979). Sejak tahun 1960-an penggunaan mangrove untuk kayu serpihan dan kayu pulp sangat meningkat. Salah satu pabrik di Kaliamantan Timur telah menghasilkan sekitar 70.000 m3 kayu serpihan (Burbridge and Koesoebiono, 1980). Wiroatmodjo dan Judi (1979) melaporkan bahwa produksi kayu bakar sekitar 250.000 m3 per tahun dengan nilai lebih dari US$ 3 juta, dan US$ 1 juta masuk ke kas pemerintah. Pada tahun 1979, kuota resmi untuk ekspor kayu mangrove mencapai lebih dari 500.000 m3 per tahun yang berasal dari konsesi hutan mangrove sekitar 455.000 hektar (Burbridge dan Koesoebiono, 1980). Konsesi hutan mangrove hingga 100 ha diatur dan dikendalikan oleh pemerintah daerah, sedangkan areal konsesi yang lebih luas dikendalikan oleh pemerintah pusat (Polunin, 1983). Sekitar 101.000 ha hutan mengarove di Kalimantan telah menjadi hak konsesi (Wirakusumah dan Sutisna, 1979), sedangkan Pradoso dan Soebardi (1979) melaporkan bahwa pada tahun 1977 lebih dari 36.000 ton log kayu mangrove telah dihasilkan di pulau ini yang dapat memproduksi sekitar 32.000 ton pulp. Statistik ekspor log dan arang mangrove dilaporkan oleh Burbridge dan Koesoebiono (1980) yang menunjukkan peningkatan ekspor arang 33,8 % antara tahun 1972 – 1978.
Jenis Excoecaria agallocha merupakan tumbuhan mangrove yang memberikan hasil pulp yang cukup baik. Selain itu, Camptostemon dan Sonneratia juga dapat menghasilkan pulp yang baik. Di beberapa tempat di Asia Selatan spesies Heritiera dan Rhizophora telah dipakai sebagai sumber serat rayon viskosis (Polunin, 1983).
Nilai pakai langsung lainnya yang penting dari mangrove adalah berbagai organisme akuatik yang beberapa diantaranya memiliki nilai komersial. Daun yang jatuh dan terakumulasi dalam sedimen mangrove sebagai lapisan daun akan mendukung komunitas organisme detritus yang selanjutnya menguraikan daun dan mengkonversinya menjadi energi. Energi ini digunakan oleh seluruh organisme dalam rantai makanan yang mendukung sejumlah spesies komersial dan subsisten seperti udang Penaeid, udang Sergestid, kepiting mangrove, curustacea lainnya, berbagai jenis ikan (belanak, bandeng, baramundi), wideng, kerang, moluska lainnya, reptil laut dan burung. Nontji (1987) melaporkan sekitar 80 spesies crustacea dan 65 spesies moluska yang terdapat pada ekosistem mangrove di Indonesia. Tumbuhan mangrove termasuk batang, akar dan daun yang jatuh menjadikan habitat bagi beberapa spesies akuatik dan beberapa spesies burung. Ekosistem mangrove juga berfungsi sebagai tempat pemeliharaan larva, tempat memijah dan tempat mencari makan bagi spesies akuatik khususnya udang Penaeid dan ikan bandeng. Menurut Levy (1979) sekitar 90 % spesies laut tropis bergantung sebagian atau seluruh daur hidupnya pada ekosistem mangrove.
Nilai terpenting spesies yang berkaitan dengan mangrove Indonesia adalah udang Penaeid yang menghasilkan devisa sebanyak 1,5 trilyun US dolar pada tahun 1995 (Ditjen Perikanan, 1996). Hasil tangkapan udang Penaeid di perairan pesisir Indonesia berkorelasi positif dengan keberdaan mangrove (Martosubroto dan Naamin, 1977). Namun demikian ada beberapa spesies udang yang tidak menunjukkan korelasi tersebut (Mac Nae, 1974). Turner (1975) mengestimasi pengaruh reklamasi lahan mangrove di Segara Anakan terhadap kehilangan ekonomis produksi perikanan di wilayah tersebut sehingga menyebabkan 2.400 nelayan kehilangan pekerjaan dan pendapatan sebesar 5,6 juta US dolar setiap tahun pada harga berlaku.
Nilai tidak langsung dari ekosistem hutan mangrove dalam bentuk fungsi ekologis yang vital mencakup perlindungan erosi pesisir, stabilisator sedimen, perlindungan koral di sekitarnya dari padatan terlarut, perlindungan penggunaan lahan pesisir dari angin dan badai, pencegahan intrusi air asin, pemurnian alami perairan pesisir dari polusi, penyediaan detritus organik dan makanan bagi perairan pesisir sekitarnya serta sebagai tempat pemeliharaan larva, pakan dan pemijahan bagi ikan ekonomis penting, crustacea dan satwa liar. Selain berbagai burung, hutan mangrove juga merupakan habitat penting bagi primata seperti Macaca fascicularis, Presbytis cristacus dan Nasalis larvatus.
Dengan demikian bila pemanfaatan kayu mangrove dikelola berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan yang lestari maka nilai pakai langsungnya akan menjadi sumber pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, baik untuk masyarakat sekitarnya maupun bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

2.2. Padang Lamun
Padang lamun merupakan tumbuhan berbunga dan berbiji yang telah beradaptasi penuh terhadap perairan laut. Tumbuhan tersebut terdapat di perairan dekat pantai yang dangkal, baik di daerah tropis maupun di daerah temperate. Jumlah jenis tumbuhan lamun yang ditemukan di seluruh dunia sebanyak 50 spesies, 12 spesies diantaranya terdapat di Indonesia.
Nilai pakai langsung ekosistem padang lamun di Indonesia masih sangat terbatas pada perannya sebagai habitat utama dan sumber pakan bagi berbagai ikan besar, crustacea, moluska, reptil laut dan mamalia. Sebagai contoh, Hutomo dan Martosewejo (1977) menemukan 78 spesies ikan dari padang lamun di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, dan Atmadja (1977) melaporkan keberadaan moluska seperti Pinna, Lambis, Strombus dan Cerithium, timun laut seperti Synapta dan Holothuia, dan bintang laut di padang lamun secara umum. Algae epifit juga melimpah dalam ekosistem padang lamun (Atmadja dan Sulistijo, 1978). Selanjutnya, Hutomo dan Martosewejo (1977) mengelompokkan ikan-ikan yang berasosiasi dengan padang lamun di Kepulauan Seribu kedalam 4 kelompok ekologi, yaitu : (1) yang tinggal menetap, (2) yang tinggal menetap tetapi memijah pada habitat di sekitarnya, (3) pengunjung pada saat-saat tertentu, dan (4) spesies yang menetap saat masih juvenil. Kategori yang terakhir mencakup beberapa spesies seperti Siganus, Molloides dan Upeneus yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di Indonesia. Beberapa spesies yang menetap termasuk moluska juga penting sebagai bahan makanan.
Tumbuhan lamun sejauh ini belum memiliki nilai ekonomis atau komersial di Indonesia, namun dilaporkan telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat pesisir sebagai sumber makanan dan sumber serat (Polunin, 1983). Enhalus acroides sebagai contoh, merupakan penyedia biji yang dikonsumsi masyarakat di Kepulauan Seribu (Nontji, 1987) dan menghasilkan serat yang digunakan di beberapa wilayah pesisir Irian Jaya (Feulleteu de Bruyn, 1920).
Nilai pakai tidak langsung dari ekosistem padang lamun mencakup : (1) fungsinya sebagai stabilisator sedimen yang mencegah erosi pesisir, (2) habitat sejumlah besar spesies satwa liar, dan (3) sumber makanan dan detritus organik yang dibutuhkan tumbuhan laut dan algae sebagaimana binatang.
Struktur kepadatan daun dan sistem perakarannya membuat padang lamun memiliki kemampuan untuk meredam gelombang dan arus sehingga menjebak sedimen dan melindungi erosi (Randall, 1965). Kemampuan tumbuhan lamun untuk mengikat sedimen dangkal tergantung pada spesiesnya. Spesies pionir yang tumbuh cepat adalah Halodule univervis, H. pinifolia dan kemudian Halophila ovalis. Pada kondisi yang sesuai, Cymodocea rotundata, C. serrulata, Enhalus acroides dan Thalasia hempricii dapat menjadi stabilisator sedimen yang bernilai (den Hartog, 1970). Tumbuhan lamun dapat mengurangi arus dekat dasar sampai 50 % sehingga mampu menahan bahan terlarut dalam kolom air (Zhuang and Chappell, 1990). Proses kolonisasi tumbuhan lamun menyukai dasar halus seperti debu, lumpur dan bahan organik. Hamparan lamun cenderung memiliki lapisan pasir berlumpur yang ditutupi kuarsa pasir cangkang tak berstruktur. Penumpukan sedimen oleh tumbuhan lamun juga dapat mendukung perkembangan karang di tempat yang terlalu keruh untuk pertumbuhannya. Fungsi hubungan padang lamun dengan ekosistem sekitarnya seperti terumbu karang dan hutan mangove harus dipertimbangkan, selain fungsi ekosistemnya sendiri dan nilai pakainya dalam setiap penilaian ekonominya.
Produktifitas primer kotor padang lamun menduduki rangking teratas di antara ekosistem alami yang pernah tercatat (Hatcher et al, 1989). Produktifitas primer ekosistem padang lamun dilaporkan antara 1.300 – 3.000 gram berat kering/m2/tahun (KLH, 1991), bahkan dapat mencapai 7.000 gramC/m2/tahun (Whitten et al, 1987). Karbon organik yang dihasilkan padang lamun melalui fotosistesis sebagian besar (70 – 90 %) digunakan oleh organisme laut pada tingkat trofik yang lebih tinggi melalui rantai makanan detritus dan sisanya melalui rantai langsung (Nienhuis, 1993). Ekosistem padang lamun umunya bersifat mandiri (self-sustaining), energi yang dihasilkan dari padang lamun di Indonesia Timur dikonsumsi sendiri dengan minimum 10 % dikirim ke ekosistem di sekitarnya pada kondisi yang tenang (Hutomo et al, 1988; Nienhuis et al, 1989; Lindeboom dan Sandee, 1989). Dugong, penyu hijau dan ikan Siganus merupakan pemangsa tumbuhan lamun dan rumput laut yang penting. Padang lamun dan habitat di sekitarnya merupakan daerah pakan yang juga penting bagi burung-burung laut (Polunin, 1983).
Nilai pakai langsung ekosistem padang lamun adalah nilai pilihan yang menunjukkan nilai pelestarian fungsi ekosistemnya dan pemakaiannya di masa mendatang, seperti penggunaan tumbuhan lamun untuk produk farmasi baru dan kultivar pertanian. Kenyataannya, di beberapa bagian dunia tumbuhan lamun digunakan sebagai sumber pupuk hijau, bahan kimia dan bahan pakan (Mc Roy and Helffrich, 1980). Sejauh ini belum ada usaha yang dilakukan di Indonesia, mungkin juga di seluruh dunia, untuk mengkuantifikasi dalam bentuk uang (membuat penilaian ekonomi) dari fungsi dan pemakaian sumberdaya padang lamun.

2.3. Terumbu Karang
Indonesia memiliki sekitar 17.500 km2 ekosistem terumbu karang (Moosa, et al, 1987) tersebar di seluruh wilayah perairan pesisir yang jernih, hangat, beroksigen serta bebas dari padatan terlarut dan aliran air tawar yang berlebihan. Terumbu karang Indonesia sangat beragam dan kaya. Seluruh tipe terumbu karang yang mencakup terumbu karang melingkar, terumbu karang penghadang, atol dan bongkahan terumbu karang (fringing reefs, barrier reefs, atoll, patch reefs) terdapat di perairan laut Indonesia.
Terumbu karang menyediakan berbagai pemakaian langsung dan tak langsung yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pesisir. Pemakaian yang paling dominan dan paling bernilai adalah besarnya hasil yang dapat diperoleh dari sumberdaya perikanan laut yang didukung oleh ekosistem terumbu karang dengan estimasi sebesar 5 ton/km2 (Snedaker and Getter, 1985). Hasil ini tak terbatas pada ikan dan crustacea yang sesungguhnya dipanen dari ekosistem terumbu karang tetapi juga mencakup sejumlah besar varitas dan kuantitas organisme yang bergantung pada ekosistem terumbu karang. Potensi panen lestari (MSY) ikan karang di perairan laut Indonesia diduga sebesar 80.082 ton/tahun (Ditjen Perikanan, 1991). Dengan luas areal terumbu karang Indonesia sekitar 17.500 km2 berarti potensi lestari ikan karang di Indonesia 4,57 ton/tahun/km2. Perikanan karang komersial dan subsisten memiliki kontribusi yang nyata terhadap ekonomi Indonesia. Masyarakat pesisir, khususnya yang tinggal di pulau-pulau kecil (Nias, Siberut, Kepulauan Seribu, Taka Bone Rare, Tukang Besi dan Padaido) telah memenfaatkan sumberdaya ikan, rumput laut dan sumberdaya biologis lainnya untuk kehidupannya selama berabad-abad. Selanjutnya di beberapa bagian Indonesia, terumbu karang secara tradisional telah dipakai oleh masyarakat pesisir untuk mendukung kehidupannya dengan memanfaatkan berbagai jenis ikan dan invertebrata lainnya (Burbridge and Maragos, 1985).
Pada dekade terakhir, keindahan alami dan keunikan terumbu karang menarik jutaan turis domestik dan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Tempat seperti Pulau Nias, Siberut, Kepulauan Sribu, Bunaken, Taka Bone Rate, Gili Trawangan (Lombok Barat), Seram dan Teluk Cendrawasih yang memiliki keindahan terumbu karang menjadi tujuan utama wisatawan. Nilai ekonomis wisata bahari ini sangat tinggi karena tak hanya menghasilkan devisa tetapi juga efek pengganda lainnya seperti perdagangan lokal dan regional, perniagaan, hotel dan restoran.
Struktur terumbu karang juga melindungi pulau, pantai yang bernilai, dan kawasan industri dari ganasnya gelombang dan badai dan tenaga alami lainnya di laut. Sebagai tambahan, telah dilaporkan bahwa ekosistem terumbu karang memiliki peran utama dalam mengurangi pemanasan global karena fungsinya sebagai penangkap karbon yang besar. Penambangan karang telah didokumentasi sebagai bahan konstruksi, pembuatan jalan, dan produksi kapur di berbagai tempat di Indonesia (Praseno dan Sukarno, 1977; Dahuri, 1991). Dari sudut pandang keanekaragaman hayati dapat dikatakan bahwa trumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks yang mendukung banyak kehidupan. Terumbu karang telah diidentifikasi memiliki nilai konservasi yang tinggi seperti hutan hujan karena keragaman biologis, secara estetika menarik, dan memiliki fungsi sebagai cadangan keanekaragaman genetika (Hatcher et al, 1990).

2.4. Estuaria
Tingginya curah hujan, banyaknya sungai, lahan basah pesisir, teluk dan perairan pesisir yang dangkal membuat Indonesia memiliki banyak estuaria. Estuaria yang luas terdapat di Indonesia, khususnya pada daerah yang curah hujannya tinggi dan memiliki lahan pesisir yang landai seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Irian Jaya, dimana daerah terbuka jauh dari massa daratan akan menjadi bagian yang memiliki perbedaan salinitas yang nyata dan beberapa sungai besar mengalirkan air tawarnya ke laut.
Secara fungsional, estuari merupakan badan air yang setengah tertutup dan berhubungan dengan laut terbuka yang airnya diencerkan oleh aliran air tawar. Aliran air pasang dan sungai sangat penting karena membantu pencampuran dan penyebaran hara yang mendorong tingginya laju produktifitas primer dan sekunder. Akibatnya estuari merupakan salah satu ekosistem yang paling produktif sebagai tempat penangkapan ikan yang sangat berharga di Indonesia. Sebagai tambahan, banyak spesies yang menghabiskan sebagian siklus hidupnya di air tawar dan air asin menggunakan estuari sebagai jalur perpindahannya. Oleh karena itu, estuari sebagai tempat utama pemeliharaan larva, post larva dan juvenil dari banyak spesies ikan dan kerang. Doty et al (1963) melaporkan adanya kenaikan produktifitas primer dari perairan terbuka 20 km dari pesisir ke estuari Sungai Deli di Sumatera Utara. Di daerah estuari hilir di Palembang, Sumatera Selatan, sepertiga dari pendapatan keluarga setempat diperoleh dari perikanan estuari (Hanson and Koesoebiono, 1979). Hutomo (1978) menemukan 80 spesies ikan yang ditangkap dengan jaring di estuari Sungai Karang, Jawa, diantaranya (Euthynus, Scomberomerus, Ratrelliger, Caranx, Caesio, dan Stolephorus) merupakan ekonomis penting. Enam spesies ikan estuari terdaftar memiliki nilai ekonomis tinggi di Indonesia, yaitu ikan Hilsa toly, Hilsa elongata, Setipinna tatty, dan Lutjanus lutjanus, Lates calcalifer, Arius thalassinus (Anonimous, 1979; Hadikoesworo, 1977). Dari kelimpahan juvenil hasil tangkapan di estuari menunjukkan bahwa estuari adalah tempat rekrutmen penting bagi populasi ikan bernilai (Hutomo, 1978). Effendi dan Syafei (1976) menemukan tempat reproduksi Mugil dussumeri di estuari Sungai Cimanuk, Jawa Barat.
Banyak sumberdaya perikanan Indonesia yang penting berada atau berasosiasi dengan estuari. Perikanan estuari yang produktif merupakan salah satu faktor yang memberikan sumbangan kesesuaian antara delta sungai dan wilayah di sekitarnya bagi pemukiman penduduk (Anwar, 1977). Perairannya yang setengah tertutup dan tinggi produktifitasnya, menyebabkan estuari mampu menopang kehidupan manusia secara lestari, khususnya sebagai sumber pangan dan produksi garam di Indonesia selama berabad-abad. Selanjutnya, estuari Indonesia saat ini digunakan untuk navigasi, budidaya laut, rekreasi, pengembangan pemukiman, dan pembuangan limbah. Selain nilai pakai langsung tersebut, estuari saat ini dikeringkan untuk produksi pertanian seperti di Segara Anakan, Cilacap.

III. Teori Nilai Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut
Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) dari sumberdaya sebagai asset merupakan jumlah dari nilai pakai (use value=UV) dan nilai bukan pemakaian (non use value=NUV) (Pearce and Morran, 1994 dan Barton, 1994). Nilai pakai adalah suatu nilai yang timbul dari pemanfaatan aktual terhadap sumberdaya yang terdapat dalam ekosistem.
Nilai pakai terbagi menjadi nilai pakai langsung (direct use value=DUV), nilai pakai tidak langsung (indirect use value=IUV) dan nilai pilihan (option value=OV). Nilai pakai langsung merupakan nilai penggunaan aktual seperti penggunaan perikanan dan kayu dari ekosistem hutan mangrove. Nilai pakai tidak langsung merupakan manfaat yang diturunkan dari fungsi ekosistem seperti fungsi hutan mangrove dalam perlindungan lahan pesisir dari erosi dan dalam penyediaan pakan bagi perikanan lepas pantai.
Nilai pilihan adalah nilai yang menunjukkan keinginan individu untuk membayar bagi konservasi sumberdaya pesisir dan laut guna pemakaian masa mendatang seperti pengembangan bahan farmasi dan kultivar pertanian baru. Dengan kata lain, nilai pilihan dapat diartikan sebegai premi asuransi dimana keinginan masyarakat untuk membayar guna menjamin pemanfaatan masa mendatang dari sumberdaya pesisir dan laut (UNEP, 1993).
Nilai bukan pemakaian terdiri dari nilai waris (bequest value=BV) dan nilai eksistensi (existence value=EV). Nilai waris mengukur manfaat individual dari pengetahuan bahwa orang lain akan memperoleh manfaat dari sumberdaya pesisir dan laut di masa mendatang. Nilai eksistensi menggambarkan keinginan masyarakat untuk membayar konservasi sumberdaya pesisir dan laut itu sendiri tanpa mempedulikan nilai pakainya. Contoh nilai eksistensi sumberdaya pesisir dan laut adalah kepedulian individu terhadap perlindungan koral biru atau ikan napoleon meskipun ia tidak melihat dan tak akan pernah melihatnya (Randall and Stoll, 1983).

3.1. Prosedur Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut
Pada dasarnya penilaian ekonomi sumberdaya pesisir dan laut meliputi 3 tahap utama, yaitu : (1) identifikasi manfaat dan fungsi keterkaitan antar komponen sumberdaya pesisir dan laut, (2) kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi tersebut ke dalam nilai uang, dan (3) penilaian alternatif alokasi pemanfaatan lahan pesisir.

1) Identifikasi Manfaat
Contoh valuasi ekonomi hutan mangrove digunakan dalam pembahasan ini untuk lebih memudahkan pemahaman.
a. Manfaat Langsung
Manfaat langsung dari hutan mangrove dapat berupa manfaat untuk kayu log, manfaat untuk kayu bakar, dan manfaat biologis. Manfaat biologis adalah manfaat lahan yang berhutan mangrove bagi komponen sumberdaya lainnya yang berada pada lahan tersebut sebagai satu kesatuan ekosistem. Manfaat ini merupakan gambaran dari fungsi keterkaitan antar komponen sumberdaya dalam satu ekosistem. Manfaat ini antra lain terdiri dari manfaat biologis bagi belut, manfaat biologis bagi udang, manfaat biologis bagi alur, manfaat biologis bagi kerang, manfaat biologis bagi kepiting, manfaat biologis bagi wideng, manfaat biologis bagi burung, manfaat biologis bagi ikan, dan manfaat biologis bagi ular.

b. Manfaat Tidak Langsung
Estimasi manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi pantai didekati dengan pembuatan beton pantai yang setara dengan fungsi hutan mangrove sebagai sebagai penahan abrasi pantai. Estimasi manfaat hutan mangrove sebagai nursery ground, spawning ground dan feeding ground bagi biota perairan didekati dari hasil tangkapan ikan di wilayah perairan laut sekitarnya. penyebaran manfaat yang sebanding dengan luas hutan mangrove.

c. Manfaat Pilihan
Nilai manfaat pilihan adalah suatu nilai yang menunjukkan kesediaan seseorang individu untuk membayar untuk melestarikan sumberdaya bagi pemanfaatan di masa depan. Nilai manfaat pilihan (option value) didekati dengan mengacu pada nilai keanekaragaman hayati hutan mangrove Indonesia yaitu US$ 1,500/km2 per tahun. Nilai ini dapat dipakai untuk hutan mangrove di berbagai daerah di Indonesia bila hutan mangrovenya secara ekologis penting dan tetap dipelihara relatif alami (Ruitenbeek, 1991).

d. Manfaat Eksistensi
Manfaat eksistensi adalah manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan sumberdaya setelah manfaat lainnya dihilangkan dari analisis sehingga nilainya (existence value) merupakan nilai ekonomis keberadaan suatu komponen sumberdaya.

2) Kuantifikasi Seluruh Manfaat dan Fungsi ke dalam Nilai Uang
Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) merupakan penjumlahan dari seluruh manfaat yang telah diidentifikasi, yaitu : NET = ML + ME + MP + MK, dimana NET = nilai ekonomi total (TEV), ML = nilai manfaat langsung (DUV), ME = nilai manfaat tidak langsung (IUV), MP = nilai manfaat pilihan (OV), dan MK = nilai manfaat keberadaan (XV).

3) Penilaian Alternatif Alokasi Pemanfaatan Lahan Pesisir
Penilaian alternatif alokasi pemanfaatan terumbu karang dengan menggunakan Cost-Benefit Analysis (CBA), yang merupakan net present value dengan menghitung manfaat yang diperoleh dari penggunaan terumbu karang, termasuk manfaat eksternalitas, dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh manfaat dari penggunaan terumbu karang, termasuk biaya eksternalitas, dalam kurun waktu tertentu serta mempertimbangkan faktor diskonto (discount rate).

III. Studi Kasus Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut
3.1. Mangrove Subang

Luas hutan mangrove di Kabupaten Subang 5.328,60 ha yang hampir separuhnya (2.650,08 ha) masih berupa hutan alam yang dipertahankan dan selebihnya (2.678,52 ha) berupa hutan tanaman hasil reboisasi sejak tahun 1976. Sejak tahun 1968 sebagian areal hutan dimanfaatkan untuk tambak ikan dengan pola tumpangsari dan pada tahun 1986 sistem tambak tumpangsari diterapkan pada seluruh areal hutan mangrove dengan ketentuan luas kolom air untuk budidaya ikan tidak melebihi 20 % dari luas petak hutan.
Vegetasi yang terdapat pada hutan mangrove subang tercatat 6 jenis pohon dan 18 jenis tumbuhan bawah yang didominasi oleh spesies Avicenia marina, Rhizopora mucronata dan Sonneratia acida. Fauna yang ditemukan terdiri dari 1 jenis mamalia, 3 jenis reptilia, 1 jenis amphibia, 11 jenis ikan, 6 jenis crustacea, 32 jenis serangga, 25 jenis burung serta beberapa jenis bivalva.
Berdasarkan hasil penelitian tahun 1996, nilai pakai langsung dari hutan mangrove tersebut yang terdiri dari kayu bakar, kayu bulat, alur (sejenis sayuran), udang, ikan, kepiting, wideng, kerang, belut, ular dan burung dengan nilai keseluruhan mencapai jumlah Rp 15.187..168.109,31/tahun. Biaya untuk memperoleh nilai pakai langsung tersebut Rp 2.676.831.048,65/tahun sehingga manfaat bersihnya Rp 12.501.337.060,66 per tahun (termasuk untuk tambak tumpangsari).
Nilai pakai tidak langsung dari mangrove dalam bentuk fungsi perlindungan lahan pesisir dari erosi dan badai serta aliran makanan dan bahan organik bagi perikanan di sekitar wilayah pesisir. Penilaian fungsi perlindungan lahan pesisir diperoleh dengan harga bayangan, yaitu biaya pembuatan beton pemagar pantai sepanjang 32,25 km dengan nilai Rp 96.750.000.000,00 untuk 10 tahun atau Rp 9.675.000.000,00/tahun. Nilai penyediaan bahan organik diperoleh dari hasil ikan tangkapan nelayan di perairan laut sekitarnya, yaitu Rp 13.956.194.000,00 dengan biaya Rp 1.542.450.000,00 sehingga manfaat bersihnya Rp 12.413.744.000,00.
Nilai pilihan dari hutan mangrove diperoleh dalam bentuk nilai sebagai wadah keanekaragaman hayati yang dikemukakan oleh Ruitenbeek (1992) yaitu US$ 1,500/km2 per tahun. Nilai eksistensi diperoleh dengan teknik contingent valuation method (CVM) dari 139 responden yang hasilnya menunjukkan nilai rata-rata Rp 6.291.000,00/ha/tahun sehingga nilai eksistensi hutan mangrove Subang seluruhnya Rp 33.522.259.900,00/tahun. Berdasarkan hasil seluruh perhitungan di atas diperoleh nilai hutan mangrove rata-rata sebesar Rp 6.928.135,16/ha/tahun.
Analisis manfaat biaya (Cost Benefit Analysis) dilakukan untuk menghitung nilai ekonomi hutan mangrove dengan berbagai skenario pengelolaan, yaitu 100 % hutan mangrove tumpangsari (silvofishery), 25 % hutan mangrove dikonversi untuk tambak udang intensif, 50 % dikonversi jadi tambak intensif, 75 % dikonversi jadi tambak intensif, 100 % dikonversi jadi tambak intensif dan 100 % dikonversi jadi tambak sederhana serta dibiarkan pada kondisi saat itu. Lingkup waktu analisis selama 20 tahun berdasarkan umur mangrove untuk dapat menghasilkan kayu bulat dengan diskonto (discount rate) 10 %.
Nilai manfaat bersih sekarang (net present value) yang paling besar adalah Rp 4.454.689.419.324,59, yaitu pada alokasi pemanfaatan lahan 25% untuk tambak intensif atau 3.420,72 ha untuk tambak intensif dan 10.262,16 untuk hutan mangrove dengan pola tumpangsari. Alokasi pemanfaatan hutan mangrove di Subang yang paling efisien adalah 100 % dijadikan hutan mangrove dengan pola tumpangsari karena rasio manfaat biayanya (B/C) paling besar (7,47). Pemanfaatan 100 % untuk hutan mangrove dengan pola tumpangsari menghasilkan nilai sekarang bersih sebesar Rp 1.748.707.447.744,27 dengan B/C sebesar 7,47. Bila dibandingkan dengan pemanfaatan untuk 25% tambak intensif, maka rasio manfaat biayanya lebih besar 1,88 kali tetapi nilai manfaatnya lebih kecil 2,55 kali. Bila dibandingkan dengan pemanfaatan untuk 50 % tambak intensif, maka rasio manfaat biayanya lebih besar 2,55 kali dan nilai manfaatnya lebih kecil 2,53 kali.
Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa proporsi penggunaan hutan mangrove untuk tambak intensif yang relatif baik adalah sekitar 25 % dari total luas hutan mengrove. Bila proporsi pemanfaatan untuk tambak intensif lebih besar dari 50 % luas hutan mangrove, maka manfaat relatif yang diperoleh akan lebih kecil daripada pemanfaatan untuk hutan mangrove dengan pola tumpangsari.

3.2. Terumbu Karang Taka Bone Rate
Terumbu karang Taka Bone Rate (TBR) merupakan gugusan atol yang terletak di sebelah Selatan pulau Sulawesi atau di sebelah Utara pulau Flores tetapi masih masuk ke dalam administratif Propinsi Sulawesi Selatan. Atol ini merupakan atol terbesar di Indonesia dan ketiga terbesar di dunia. Luas atol ini sekitar 220.000 ha dan mempunyai terumbu karang yang datar seluas 500 km2.
Kedalaman dataran terumbu karang berbeda-beda mulai dari atas permukaan air surut sampai 3 meter. Di dalam atol terdapat karang tepi, petak karang, atol mikro dan terumbu karang penghadang. Jumlah terumbu karang sebanyak 21 dengan 9 sand cays dan 11 pulau, 6 pulau diantaranya dihuni oleh penduduk secara permanen dalam 2 desa, yaitu Desa Rajuni (sebelah Utara) dan Desa Pasitalu (sebelah Selatan). Jumlah penghuni pulau-pulau tersebut sekitar 9.000 jiwa dimana lebih dari 90 % bekerja sebagai nelayan penangkap ikan di sekitar atol tersebut.
Jenis ikan yang terdapat pada atol TBR antara lain cakalang, hiu, tongkol, kerapu, bambangan, lemuru, layang, baronang, ekor kuning, bawal dan ikan kakatua. Selain itu tertangkap pula lobster, penyu hijau, penyu sisik, gurita dan teripang.
Nilai pakai langsung dari terumbu karang di daerah ini adalah berbagai jenis ikan dari hasil kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan. Alat tangkap yang digunakan adalah bagan perahu, jaring insang, pancing ulur dan bubu.
Analisis manfaat biaya dilakukan dengan 3 skenario, yaitu tanpa perubahan (status quo), tanpa pengelolaan (dibiarkan sesuai dengan kecenderungan perkembangan pemanfaatannya) dan dengan pengelolaan (pembatasan jumlah alat tangkap) . Lingkup waktu penilaian adalah 20 tahun dengan discount factor 10 % dan 20 %. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan pengelolaan penangkapan ikan yang baik nilai manfaat bersih sekrang akan meningkat dan menunjukkan nilai yang paling besar bila dibandingkan dengan keadaan status quo ataupun tanpa pengelolaan (Sawyer, 1992).

IV. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut dalam Kaitannya dengan Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pesisir dan PAD

Berdasarkan studi kasus yang telah diuraikan di atas terlihat bahwa pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut akan meningkatkan nilai ekonominya dalam jangka panjang. Ini berarti dengan teknik pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan akan diperoleh nilai ekonomi total yang relatif lebih besar bila dibandingkan pemanfaatan sumberdaya yang tidak terkendali.
Distribusi penguasaan sumberdaya pesisir dan laut yang seimbang pada masyarakat ditambah dengan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang cara pemanfaatan sumberdaya yang lestari, akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Demikian pula dengan PAD (pendapatan asli daerah) yang akan meningkat dan berkelanjutan seiring dengan peningkatan nilai ekonomi total dari sumberdaya pesisir dan lautan.
Hal yang sama juga dapat diterapkan di wilayah pesisir Teluk Bone. Upaya pengendalian pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan di Teluk Bone akan meningkatkan nilai ekonomi total dari sumberdaya tersebut. Oleh karena itu, langkah-langkah yang berupa pengaturan pemanfaatan sumberdaya dan transfer informasi mengenai teknik pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan kepada semua stakeholder di wilayah Teluk Bone sangat diperlukan.

Daftar Pustaka
1. Atmadja, W. S. 1977. Marine Resources Indonesia, 17 : 15-27.
2. Atmadja W. S. and Sulistijo. 1977. Oseanologi di Indonesia, 10 : 9-13.
3. Barton, D. N. 1994. Economic Factors and Valuation of Tropical Coastal Resources. SMR-report 14/94. Center for Studies of Environment and Resources, University of Bergen. Norway.
4. Burbridge P. R. and J. E. Maragos. 1985. Coastal Resources Management and Environmental Assessment Needs for Aquatic Resources Development in Indonesia. International Institute for Environment and Development. Washington D. C.
5. Dahuri, R. 1991. An Approach to Coastal Resources Utilization : The Nature and Role of Sustainable Development in East Kalimantan Coastal Zone, Indonesia. Ph.D. Dissertation. Dalhouise University, Halifax N. S., Canada.
6. Dahuri et al. 1995. Studi Pengembangan Kebijakan Ekonomi Lingkungan: Valuasi Ekonomi Ekosistem Hutan Mangrove dan Perairan Terbuka di Kabupaten Pemalang dan Pulau Madura. Kerjasama PPLH-IPB dengan Kantor Meneg LH.
7. Den Hartog, C. 1970. Seagrasses of The World Elsevier. North Holland. Amsterdam.
8. Direktorat Jenderal Perikanan. 1991. Laporan Tahunan. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian RI. Jakarta.
9. Dixon, J. A. dan M. M. Hufschmidt. 1991. Teknik Penilaian Ekonomi terhadap Lingkungan. Suatu Buku Kerja Studi Kasus. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
10. Hodgson, G. and J. A. Dixon. 1988. Logging versus Fisheries and Tourism in Palawan. East-West Environment and Policy Institute Occasional Paper No. 7. East-West Center. USA.
11. Hufschmidt, M. M., D. E. James, A. D. Meister, B. T. Brower and J. A. Dixon. 1983. Environment, Natural Systems, and Development – An Economic Valuation Guide. 3rd edition. John Hopkins Univ. Press. Baltimore. USA.
12. Fahrudin, Achmad. 1996. Analisis Ekonomi Lahan Pesisir Kabupaten Subang, Jawa Barat. Lembaga Penelitian IPB. Bogor.
13. Hamilton, L. S. and S. C. Snedaker. 1984. Mangrove Area Management Handbook. Environment and Policy Institute, East-West Center. Hawaii.
14. Hatcher et al. 1989. Review of Research Relevant to The Conservation of Shallow Tropical Marine Ecosystem. Oceanography dan Marine Biology Annual Review. 27: 337-414.
15. Hutomo M, et al. 1988. The Status of Seagrass Ecosystem in Indonesia. Research, Problems and Management. Paper Presented at SEAGREM I. Manila, Januari 17-22, 1988.
16. IUCN. 1993. Oil and Gas Exploration and Production in Mangrove Areas. Guidlines for Environmental Protection. IUCN, Gland, Switzerland.
17. KLH. 1991. Kualitas Lingkungan Indonesia 1991. Kantor Meneg LH RI. Jakarta.
18. Lindeboom, H. J. and J. J. Sandee. 1989. Production and Consumption of Tropical Seagrass Fields in Easterm Indonesia. Measured with Bell Jars and Microelectrodes. Netherland Journal of Sea Research. 23: 181-190.
19. Mann, K. H. 1982. Ecology of Coastal Waters: A System Approach. Blackwell Scientific Publ. Univ. of Calif. Press, Los Angeles.
20. Pearce, D, W., A. Markandya and E. B. Barbier. 1990. Blueprint for A Green Economy. Earthscan Publication Ltd. London.
21. Pearce, D. W. and R. K. Turner. 1990. Economics of Natural Resources and The Environment. Harvester Wheatsheaf. London.
22. Pearce, D. W. and D. Morran. 1994. The Economic Value of Biodiversity. Earthscan Publication Ltd. London.
23. Ruitenbeek, H. J. 1991. Mangrove Management : An Economic Analysis of Management Options with A Focus on Bintuni Bay, Irian Jaya. Environmental Management Development in Indonesia Project (EMDI). EMDI Environmental Reports No. 8. Jakarta
24. Sumardjani, L. 1993. Pembangunan Hutan Tanaman Industri Mangrove di PT. Ciptamas Bumisubur, Air Sugihan, Sumatera Selatan. Bulletin Instiper Volume 4 Nomor 2 Tahun 1993. Yogyakarta.
25. Soemodihardjo, S., A. Nontji dan A. Djamali (Ed). 1979. Prosiding Seminar Ekosistem Mangrove. Lembaga Oseanologi Nasional. Jakarta. p. 176-185.

Explore posts in the same categories: Makalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: